6 Faktor yang mempengaruhi Hasil Pembiakan Tanaman Secara Vegetatif - Juragan Post

Senin, 22 Oktober 2018

6 Faktor yang mempengaruhi Hasil Pembiakan Tanaman Secara Vegetatif

Setidaknya ada 6 Faktor yang mempengaruhi Hasil Pembiakan Tanaman Secara Vegetatif. ke 6 faktor tersebut adalah sebagai berikut:


1. Lokasi dan Fasilitas

Usaha pembibitan tanaman adalah usaha memperbanyak tanaman dengan menggunakan perbanyakan secara generatif dan vegetatif. Secara generatif adalah dengan menggunakan biji sedangkan secara vegetatif menggunakan bagian dari tanaman seperti stek, cangkok, okulasi (tempel), grafting (sambung) dan kulturjaringan. Keuntungan perbanyakan secara vegetatif antara lain sifat tanaman yang sesuai dengan sifat tanaman induknya, mempercepat tanaman berbuah atau memperpendek masa juvenile (masa tanaman belum menghasilkan). Usaha pembiakan tanaman khususnya buah-buahan banyak terdapat di Indonesia, sebagai contoh Majalengka terkenal sebagai sentra produksi bibit mangga, rambutan dan jeruk, Lampung terkenal sebagai sentra produksi bibit rambutan dan Bogor terkenal sebagai sentra produksi bibit durian.



Tabel 1. Perkiraan Permintaan Buah-buahan di Indonesia Sampai Tahun 2015
 

Tahun
Populasi
Peningkatan
Konsumsi
Total

Juta *
Konsumsi per
/Kapita
Konsumsi




5Tahun (%) **
(kg)
(ribu ton)








1995
200

30,00
6.000







2000
213
30,5
36,76
7.000






2005
227
32,5
45,70
10.375






2010
240
34,5
57,92
13.900






2015
254
44,5
78,74
20.000

 

Sumber : * BPS, ** Departemen Pertanian (1992)


Untuk memenuhi kebutuhan buah dalam negeri, pemerintah berusaha meningkatkan produksi buah-buahan dengan cara mengembangkan agribisnis buah-buahan. Namun peningkatan produksi saja tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan peningkatan mutu buah-buahan. Dalam agribisnis, mutu buah-buahan sangatlah penting dan menentukan keberhasilan usaha. Masalah mutu yang dihadapi diantaranya penampilan buah yang kotor, memar-memar, tidak higiene, warna yang tidak merata dan citarasa buah yang tidak sama antar buah yang diperdagangkan. Masalah rendahnya mutu buah tersebut dapat diatasi dengan penggunaan bibit berlabel. Bibit berlabel adalah bibit yang telah mendapat sertifikat dari Instansi Penyelenggara Sertifikasi atau Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) dan telah teruji kebenarannya. Berdasarkan uraian tersebut maka peluang usaha pembibitan tanaman khususnya tanaman buah-buahan bisa dijadikan pilihan usaha.

Lokasi usaha pembibitan tanaman buah-buahan dipengaruhi oleh factor ketersediaan air sepanjang tahun dan ketersediaan pohon induk penghasil mata tempel untuk batang atas dan biji untuk batang bawah. Ketersediaan air mutlak diperlukan untuk pembibitan karena bibit tanaman sangat memerlukan air untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Penangkar bibit umumnya mempunyai sendiri pohon induk penghasil matatempel sedang biji batang bawah diperoleh dari pedagang biji atau penangkar membeli dari petani buah di sekitar lokasi usaha pembibitan sedangkan fasilitas produksi usaha pembiakan tanaman yaitu lahan pembibitan, biasanya berada pada lahan terbuka seperti di sawah dan showroom yang terletak di tepi jalan raya, terpisah dari lokasi pembibitan.

Luas showroom biasanya kecil hanya lebih kurang 10% dari lokasi pembibitan. Showroom merupakan bangunan tempat memamerkan bibit tanaman, biasanya berupa saung tanpa dinding yang beratapkan daun kelapa/ alang-alang dengan rangka terbuat dari bambu. Fasilitas produksi lainnya yakni kebun buah yang berfungsi sebagai pohon induk penghasil mata tempel dan juga dapat berfungsi sebagai sumber mata pencaharian tambahan. Pohon induk tersebut adalah pohon induk (tanaman buah) yang telah diobservasi dan varietasnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian serta layak sebagai penghasil mata tempel. Kelayakan pohon indukpenghasil mata tempel meliputi keadaan pohon induk dan perkiraan jumlah mata tempel. Pohon tersebut merupakan pohon induk utama yang akan diperbanyak secara vegetatif dan sumber penghasil mata tempel atau bahan sambung untuk perbanyakan selanjutnya.

Peralatan yang digunakan untuk pembiakan tanaman buah-buahan misalnya adalah peralatan standar yang digunakan untuk berkebun. Adapun peralatan yang digunakan oleh penangkar bibit mencakup peralatan berkebun dan okulasi (cangkul, gunting, pisau, hand sprayer) dan peralatan panen yakni pendongker dan karung atau keranjang.


2.  Bahan Baku

Bahan baku dalam usaha pembibitan tanaman buah-buahan adalah matatempel untuk batang atas dan biji untuk batang bawah. Mata tempel untuk batang atas harus lulus sertifikasi dari Instansi Penyelenggara Sertifikasi dan berasal dari pohon induk yang telah diobservasi dan telah dilepas varietasnya oleh Menteri Pertanian.

Biji atau seedling yang digunakan sebagai batang bawah harus berasal dari pohon induk yang telah dideterminasi oleh Instansi Penyelenggara Sertifikasi dan dinyatakan layak sebagai pohon induk/penghasil benih sumber. Pohon induk tersebut harus jelas varietasnya, telah direkomendasikan sebagai penghasil batang bawah dan telah terdaftar di Instansi Penyelenggara Sertifikasi, diketahui lokasinya, mempunyai batas-batas/daerah yang jelas dan diberi identitas. Akan lebih baik lagi apabila pohon induk tersebut terisolasi dari pohon lainnya yang sejenis. Pohon induk tersebut dapat berasal dari biji (hasil perbanyakan generatif) atau dari hasil perbanyakan vegetatif. Syarat biji yang dipakai adalah perakaran yang kuat dan menyebar merata, kompatibel dengan batang atas, tahan terhadap organisme pengganggu tanaman, mempunyai daya adaptasi yang luas, tidak berpengaruh buruk terhadap kuantitas dan kualitas buah.

Kebutuhan mata tempel dalam usaha pembibitan tanaman buah-buahan dapat berasal dari kebun buah milik penangkar, namun seiring dengan berjalannya waktu jumlah mata tempel yang tersedia semakin menipis sehingga penangkar membeli dari luar kebunnya. Sedangkan kebutuhan biji untuk batang bawah penangkar umumnya membeli biji dari pedagang bijiatau penangkar membeli langsung ke petani buah. Sarana produksi yang digunakan adalah plastik, keranjang/ polybag/karung, pestisida, pupuk urea dan pupuk kandang.



3. Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang bekerja pada usaha pembiakan tanaman umumnya dapat digolongkan menjadi tenaga kerja tetap yang merupakan anggota keluarga dengan jumlah tenaga kerja sekitar 8 orang dan tenagakerja tidak tetap yakni masyarakat sekitar dengan jumlah tenaga kerja berkisar antara 15-20 orang. Tenaga kerja tetap/keluarga biasanya melibatkan kedua orang tua dan anak-anaknya yang telah dewasa. Selain tenaga kerja keluarga juga digunakan tenaga kerja tidak tetap/borongan yang berasal dari luar keluarga. Tenaga kerja keluarga digunakan untuk kegiatan pemasaran seperti menjaga showroom dan kegiatan pengolahan tanah, pembuatan bedengan/gulu dan, penanaman biji/ penyemaian dan pemeliharaan tanaman, sedangkan tenaga kerja borongan biasanya untuk kegiatan okulasi, pendongkeran dan pengangkutan bibit ke showroom.

4. Teknologi

Pembiakan tanaman umumnya dilakukan selama setahun (satu musim tanam). Budidaya pembibitan tanaman dapat dibagi dua teknik yaitu pembibitan di polybag dan pembibitan secara konvensional yakni pembibitan di lahan. Tahap pembibitan di polybag adalah sebagai berikut :

1) Persiapan media tanam : media tanam yang digunakan sangat beragam.

2) Media tanam yang digunakan adalah campuran serbuk kayu atau kompos, pupuk kandang dan guano, dengan perbandingan 1:1:1 satuan volume. Media tanam tersebut dicampur merata dan dimasukkan ke dalam polybag bervolume sekitar 40 liter. Polybag diletakkan di bawah naungan seperti di bawah paranet atau dibawah pohon besar.

3) Persiapan bibit batang bawah : biji untuk batang bawah disemaikan

4) dulu di bedengan, sesudah biji berkecambah, tiap-tiap bibit ditanam dipolybag yang telah tersedia, satu bibit satu polybag.



5) Okulasi : sesudah bibit batang bawah berumur 4–6 bulan dapat dilakukan okulasi. Setelah 4–6 bulan berikutnya atau sesudah daun tanaman okulasi tua (warna daun hijau tua) bibit sudah dapat dijual.


Teknik pembibitan di polybag memiliki keuntungan yaitu waktu okulasi tidak mengenal musim, lebih mudah dilakukan, efektif dan cepat menghasilkan bibit jual. Kendalanya, teknik pembibitan ini membutuhkan biaya yang lebih banyak. Teknik pembibitan yang lain adalah teknik pembibitan secara konvensional yakni pembibitan di lahan terbuka seperti sawah. Keuntungan teknik ini adalah biaya yang diperlukan lebih murah, sedang kendalanya adalah pada saat okulasi yang hanya dilakukan saat musim-musim tertentu saja.

5. Biaya

Struktur biaya yang diperlukan untuk usaha pembibitan tanaman buah buahan terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah biaya awal yang diperlukan sebelum kegiatan operasional dilakukan. Sedangkan biaya operasional diperlukan pada saaat proses produksi mulai dilakukan

Biaya Investasi
 

Biaya investasi diperlukan untuk memulai usaha pembibitan tanaman buah-buahan meliputi biaya perizinan, sewa lahan, bangunan dan peralatan. Biaya investasi ini bersifat tetap (fixed) dan harus dikeluarkan pada tahun ke-0 sebelum melakukan usaha.

Tabel 2. Kebutuhan Biaya Investasi Usaha Pembibitan Tanaman

NO
URAIAN
Jumlah Biaya (Rp)



1.
Perizinan
-



2.
Sewa Lahan 1 Ha
-



3.
Bangunan dan Peralatan
-




a.
Bangunan
-





b.
Peralatan
-





Jumlah

-






Biaya Operasional
 

Biaya operasional merupakan biaya yang diperlukan dalam memproduksi bibit tanaman. Besarnya biaya operasional ini tergantung pada luas areal tanah. Semakin luas areal tanam maka biaya operasional semakin tinggi. Biaya operasional umumnya merupakan biaya tidak tetap (variabel cost) yang terdiri dari biaya bahan baku, sarana produksi, tenaga kerja borongan dan biaya sertifikasi bibit. Selain biaya tidak tetap, biaya operasional juga meliputi juga biaya overhead yang merupakan biaya tetap yang harus dikeluarkan setiap bulannya dan sifatnya tidak langsung. Biaya overhead meliputi biaya listrik, biaya telepon dan tenaga kerja tetap.Biaya operasional usaha pembibitan tanaman buah-buahandapat dilihat pada Tabel 3. berikut ini.

Tabel 3. Kebutuhan Biaya Operasional

NO
Uraian
Jumlah Biaya (Rp)



1.
Biaya Variabel





a. Biaya Bahan Baku
-




b. Biaya Saprotan
-




c. Tenaga Kerja Borongan
-




d. Biaya sertifikat Bibit
-



2.
Biaya Overhead





a. Biaya Listrik
-




b. Biaya Telepon
-




c. Biaya Tenaga kerja tetap
-







6. Penjualan

Menurut Sitompul (2007), dalam Teknik Pembibitan dan Produksi Benih Jilid 2, penjualan merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi suatu usaha, mengingat sumber keuntungan yang diharapkan dapat diperoleh dari penjualan produk atau jasa. Penjualan itu penting bagi setiap usaha dan mutlak diperlukan bagi semua usaha.

Tanpa adanya penjualan maka usaha tidak akan mendapatkan income untuk dapat menutup biaya kegiatan operasional bulanan atau tahunan. Penjualan merupakan ujung tombak darisuatu usaha dan masih ada anggapan bahwa bidang penjualan sebagai pelengkap dalam bidang usaha.

Agar penjualan dapat tercapai dengan baik perlu adanya jiwa marketing bagi semua orang yang terkait dalam perusahaan. Jiwa marketing dimulai dari tingkat yang paling atas hingga tingkat yang paling bawah dalam suatu usaha. Usaha ini dapat dimulai dengan melakukan kontrol kualitas produk yang akan dijual, memberikan layanan maksimal kepada konsumen dengan mengantisipasi setiap keluhan konsumen. Tim penjualan bukan hanya dimotivasi untuk mencapai target penjualan dan kemudian menghasilkan profit atau keuntungan, tetapi juga diharapkan dapat membangun jaringan pelanggan atau network pelanggan bagi perusahaan. Selain itu juga tim penjualan diharapkan dapat memberikan layananmaksimal kepada semua pelanggan. Untuk mencapai hal-hal tersebut dibutuhkan pelatihan secara berkala dan standar prosedur pelaksanaan pekerjaan yang baku untuk kegiatan penjualan serta melakukan pengembangan secara terus-menerus terhadap kualitas produk dan layanan yang ditawarkan kepada pelanggan.

Hal-hal lain yang terkait dengan penjualan adalah keikutsertaan dari tim penjualan untuk mengamati setiap pergerakan dan arah pasar terhadap permintaan produk. Harga penjualan produk berupa benih tanaman dihitung dari semua komponen biaya produksi, lalu dilakukan analisis BEP. Dari analisis usaha tersebut dapat diprediksi jumlah produksi minimal yang harus diproduksi. Untuk menentukan harga penjualan, pengusaha pada umumnya menambahkan keuntungan sekitar 25-50% dari biaya produksi. Harga jual dapat pula ditentukan berdasarkan survey pemasaran sehingga didapat harga jual yang masih menguntungkan perusahaan dan kompetitif.

Sasaran dan target penjualan harus ditentukan sebelum produksi dimulai, metode ini akan mengurangi resiko kerugian bagi perusahaan. Sasaran pemasaran adalah perkiraan konsumen/klien yang akan dijadikan fokus penjualan.


Referensi:
Pengembangbiakan Tanaman untuk SMK kelas 10---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda