Cara Mengembangkan Pariwisata Pusaka - Juragan Post

Jumat, 09 November 2018

Cara Mengembangkan Pariwisata Pusaka



Belajar dari hal-hal yang dilakukan oleh beberapa negara maju di Eropa dan Amerika, terdapat beberapa kondisi yang harus dipersiapkan jika ingin memastikan keberhasilan pariwisata pusaka yaitu:



1. Pengelompokkan produk-produk pariwisata sehingga saling mendukung usaha yang lainnya.

2. Komitmen yang kuat untuk menghindari pengulangan.

3. Kerjasama antara anggota komunitas dengan unsur-unsur lain di tingkat daerah dan nasional.

4. Partisipasi warga dalam perencanaan kepariwisataan.

5. Sumberdaya keuangan yang cukup untuk memulai pembangun sektor publik dan swasta.

6. Komitmen untuk memberikan pengalaman yang asli/otentik melalui inter- aksi dan keterlibatan langsung warga masyarakat.

7. Penghormatan terhadap nilai-nilai budaya.

8. Komitmen untuk menjaga dan membangun kembali sumber daya sejarah dan budaya.

9. Pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan kesadaran, pendidikan dan pelatihan.

10. Pengidentifikasian atraksi-atraksi budaya yang sesuai dengan minat dan ketertarikan target pasar.

11. Visi untuk menjamin kelangsungan hingga ke masa depan dengan tetap

mempertahankan integritas sumberdaya yang menjadi daya tarik.



TAHAPAN-TAHAPAN PEMBANGUNAN PARIWISATA PUSAKA



Secara umum, Erickson (2001) menyatakan bahwa terdapat 6 tahapan pengembangan program. Tahapan ini dilakukan untuk destinasi yang belum teridentifikasi obyek dan daya tarik wisatanya. Langkah-langkah tersebut adalah:



1. Identifikasi sumberdaya;

2.Penyelidikan terhadap potensi-potensi yang ada;

3. Membuat rencana program dan penatalaksanaannya;

4. Pengembangan produk;

5. Marketing dan Komunikasi;

6. Penelitian;



Sementara itu Walker (1996) dalam buku petunjuknya tentang urutan-urutan pengembangan pariwisata pusaka menyajikan langkah-langkah yang lebih terinci. Adapun langkah-langkah ini dilakukan pada destinasi yang obyek dan daya tarik wisatanya telah teridentifikasi. Langkah-langkah tersebut lebih berorientasi pada program. Langkah-langkah yang telah dimodifikasi tersebut adalah:



1. Menentukan pihak yang terlibat

2. Menentukan tujuan

3. Mengidentifikasi sumberdaya

4. Membangun konsep pengembangan program

5. Membuat rencana aksi yang terdiri dari rencana kerja, tata waktu, dan prioritas

6. Menentukan target pasar

7. Membuat analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat)

8. Membuat rencana pemasaran

9. Melakukan analisa keuangan

10. Menentukan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan

11. Menyiapkan rencana pelayanan wisatawan

12. Membuat rencana konservasi

13. Meluncurkan dan mempromosikan program

14. Monitor dan evaluasi perkembangan program



Kedua pendapat tersebut, bersama dengan pendapat-pendapat lain (lihat misalnyahttp://www.culturalheritagetourism.org/howToGetStarted.htm) bersifat saling melengkapi satu sama lain. Semuanya menekankan empat kegiatan utama yaitu:

1. Identifikasi (sumber daya berupa alam, budaya serta manusia)

2. Perencanaan (atraksi, wisatawan, termasuk rencana pemasaran)

3. Pelaksanaan

4. Evaluasi.



Sebagai tahap permulaan kita bisa memulai kegiatan dengan mengacu pada apa yang telah dibuat oleh Walker & Brooks (1999). Buku manual yang dibuat oleh keduanya telah dilengkapi dengan berbagai daftar pertanyaan yang akan membantu kita menemukan apa yang harus kita lakukan pada berbagai tahapan kegiatan. Namun demikian, manual tersebut harus diikuti secara hati-hati karena konteks pembuatannya sangat tergantung pada kondisi daerah dan masyarakat kita.



Namun demikian, terdapat pra-kondisi yang harus disiapkan sebelum melakukan berbagai tahapan di atas, yaitu timbulnya kesadaran bahwa kegiatan pariwisata hanya dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dengan posisi yang setara.



 Apa yang telah dilakukan daerah lain terkait pariwisata pusaka alam dan/atau budaya? 



 1. Lembaga Pariwisata Tangkahan di Taman Nasional Gunung Leuser. Lembaga Pariwisata Tangkahan(LPT) didirikan dengan inisiatif dari sekelompok orang yang semula menebang kayu secara tidak sah di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sumatera Utara. Kelompok masyarakat ini menyadari perbuatan mereka dan kemudian membentuk kelompok (LPT) untuk mengatur kegiatan pariwisata di wilayah mereka. LPT memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat, pemerintah setempat dan pengelola TNGL dengan membawa bendera pelestarian lingkungan. Kelompok ini mengembangkan paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Paket wisata tersebut berupa trekking di hutan, berperahu karet di sungai, menjelajah goa, patroli dengan gajah di hutan dan memandikan gajah. Paket wisata ini termasuk menginap, jasa pemanduan,dan makan. 



 2. Wisata kota tua di Jakarta. Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia mengadakan kegiatan Wisata Kota Tua yang dilakukan pada akhir pekan. Peserta berkumpul di depan Museum Bank Mandiri yang memanfaatkan gedung tua. Wisata kota tua tersebut terdiri dari berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi bagian sejarah Kota Jakarta yaitu Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Chartered Bank, Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Cafe Galangan, Gudang Kayu VOC, Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kalapa, Menara Syahbandar, Jalan Tongkol, Cipta Niaga, Dasaad Musin Concern, Taman Fatahillah, PT Pos Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, serta Escompto Bank. Seorang pemandu wisata menemani peserta untuk menerangkan cerita dibalik tempat-tempat tersebut. 



 3. Revitalisasi budaya di Nias Selatan melalui pariwisata. Yayasan Ragi Buana, sebuah lembaga swadaya masyarakat bekerja sama dengan kelompok ibu-ibu, para pemuda, dan kelompok adat di Kampung Onohondro dan Hilinawalo Fau di Nias Selatan, Sumatra Utara untuk menghidupkan kembali kebudayaan mereka. Kegiatan dilakukan melalui membentuk paket wisata budaya dan alam di Nias Selatan. Bersama kelompok ibu-ibu yang mengatur makanan untuk wisatawan yang berkunjung, pemandu yang merupakan para pemuda dari kampung tersebut, membentuk paket wisata yang terdiri dari kunjungan ke dua kampung tersebut untuk melihat rumah adat, serta arsitektur asli Nias Selatan yang masih bertahan hingga saat ini, menyaksikan lompat batu, pertunjukan budaya seperti tari perang, proses pembuatan kerajinan dan trekking di sepanjang aliran sungai yang menghubungkan kedua kampung tersebut. Yayasan ini juga menggagas kerjasama dengan para ibu dan pemuda kampung untuk membuat baju dan aksesoris pelengkap pertunjukan budaya secara swadaya. 



 4. Menjelajahi keindahan hutan Todo dan Kampung Waerebo. Untuk menuju Kampung Waerebo, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki melintasi hutan lindung Todo yang sangat indah. Para pemuda di Waerebo akhirnya bersepakat agar perjalanan para tamu yang datang dari berbagai negara di dunia ke kampung mereka dapat difasilitasi dengan baik. Penduduk kampung menyambut tamu dengan acara adat, para ibu memasak untuk setiap tamu yang datang, para lelaki di kampung tersebut juga melakukan pertunjukan seni tanpa diminta dan mengharapkan imbalan. Penduduk Kampung Waerebo juga secara swadaya bekerja memperbaiki jalan menuju kampung mereka agar aman bagi pengunjung. 

Peran Serta Masyarakat



Salah satu kunci keberhasilan pariwisata pusaka adalah pentingnya keterlibatan masyarakat setempat pada keseluruhan tahapan pelaksanaan kegiatan. Masyarakat setempat harus terlibat dan dilibatkan pada tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Anggota masyarakat yang terlibat diharapkan akan mampu menyampaikan kepentingan bersama serta memberikan ide-ide bagi pengembangan kegiatan maupun bentuk peran serta warga. Warga masyarakat harus ditempatkan dalam kerangka mitra kerja yang setara, terjamin dan efektif.



Kerangka kemitraan yang menjamin keterlibatan warga secara setara dengan pemangku kepentingan lainnya harus diimbangi pula oleh kemampuan masyarakat untuk mengelola bentuk-bentuk wisata yang akan dikembangkan agar sesuai dengan visi dan karakter masyarakat setempat.



Hal-Hal yang Harus Diantisipasi sebagai Dampak Kegiatan Pariwisata Pusaka



Pelaksanaan kegiatan wisata ibarat pisau bermata dua, selain membawa keuntungan juga membawa kerugian bagi masyarakat.

Hal-hal yang harus diantisipasi antara lain:



1. Ekonomi



a.  Meningkatnya investasi publik

b. Meningkatnya biaya-biaya pelayanan

c. Ketergantungan yang berlebihan terhadap pariwisata

d. Pekerja di sektor pariwisata biasanya diupah lebih rendah dibandingkan

dengan sektor industri

e. Meningkatnya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari

f. Meningkatnya harga tanah



2. Fisik



a. Merosotnya sumberdaya alam dan budaya

b. Jumlah pengunjung yang melebihi kapasitas

c. Polusi dan sampah



3. Sosial



a. Konflik dengan pekerja pendatang

b. Meningkatnya kejahatan

c. Berubahnya gaya hidup (terutama di kalangan muda)

d. Konflik penggunaan sumberdaya





Sumber: PARIWISATA PUSAKA: Masa Depan bagi Kita, Alam dan Warisan Budaya Bersama. Publikasi dari © UNESCO Office, Jakarta

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda