Urgensi bekerja dan berusaha dalam Islam - Juragan Post

Kamis, 26 November 2020

Urgensi bekerja dan berusaha dalam Islam

Urgensi bekerja dan berusaha dalam Islam

Oleh

Jazuli Juwaini*



Kemandirian ekonomi bagi umat Islam merupakan kawasan yang sangat penting untuk selalu diupayakan. Karena pada dasarnya doktrin ekonomi umat Islam itu adalah ekonomi yang mandiri. Orang muslim akan malu untuk bergantung dan meminta harta kepada orang lain. Sebab Islam mengajarkan prinsip Al-yadul ulya khairun min yadis sulfa, tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah. Meminta dalam Islam tidak baik. Sebaliknya, memberi adalah perbuatan yang mulia.

Islam memandang bahwa berusaha bekerja dan mencari rizki merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Dalam Alquran kata 'kerja' atau 'Amal', dalam suatu konteks dengan yang lainnya, disebut dengan frekuensi yang sedemikian banyak. Bahkan hampir di setiap halaman Alquran ada yang merujuk pada kata 'kerja' itu. Jika ditelusuri kita akan mendapatkan sebanyak 360 ayat membicarakan tentang amal dan 109 ayat yang membicarakan tentang fi'il (2 kata itu sama-sama bermakna kerja dan aksi). Selain 2 kata itu, amal dan fi'il, beberapa terma lain yang diambil dari akar kata yang juga menekankan pada aksi dan kerja kita dapatkan secara ekstensif, seperti akar kata kasaba, baghiya dan juga jahada. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bekerja dalam Islam. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat hadits bahwasanya kualitas seorang hamba dinilai berdasarkan amalnya, selain niatnya.

Sejumlah ayat Alquran dan hadis Nabi Shallallahu alaihi Wasallam menjelaskan pentingnya aktivitas usaha dan bekerja, diantaranya "Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah dimuka bumi. Dan carilah karunia Allah" (QS.  Al Jumuah: 10)

Dalam sebuah hadits Rasulullah sallallahu alaihi Wasallam bersabda, "Sungguh seandainya salah seorang diantara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung kemudian kembali memegang seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian orang itu mencukupkan kebutuhan hidupnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi maupun tidak" (HR. Bukhari)

Pernah Rasulullah Shallallahu Alaihi wassalam ditanya oleh para sahabat, "Pekerjaan apa yang paling baik wahai Rasulullah? Rasulullah Menjawab, seseorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual-beli yang bersih" (HR. Al Bazzar dan Ahmad). Di hadis yang lainnya Rasulullah bersabda, "Pedagang yang jujur lagi terpercaya adalah bersama-sama nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada" (HR. Ibnu Majah).

Pada peristiwa lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wassalam pernah melihat seseorang yang setiap hari terus berada di masjid. Boleh bertanya kepada para sahabat " Siapa yang memberi nafkah dia?". Sahabat menjawab, " saudaranya". Kata Rasulullah, "Saudaranya itu lebih baik dari dia".

Umar Bin Khattab juga melihat fenomena serupa. Ada seorang terus-menerus berdoa di masjid. Umar berkata kepada orang itu, "Mengapa kamu tidak mengambil kampak? Agar kamu mencari kayu. Sesungguhnya langit tidak akan pernah hujan emas atau perak."

Allah Subhanahu Wa Ta'ala melapangkan bumi serta menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mencari rezeki. "Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka Berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya..." (QS. Al Mulk: 15). "Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber-sumber) penghidupan..." (QS. Al A'raf: 10). Di antara sumber-sumber daya yang diserahkan kepada manusia antara lain adalah hewan ternak, tumbuh-tumbuhan, kekayaan laut, kekayaan bahan tambang dan lain-lain.

Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa bekerja mencari rezeki adalah aktivitas yang inheren dalam ajaran Islam. Allah akan menurunkan Rizki apabila rezeki untuk dakwah. Yang penting kita tampil di hadapan Allah dan kerja keras dan kesungguhan. Tentu mencari rezeki dalam konteks ajaran Islam bukan untuk semata-mata memperkaya diri sendiri. Islam mengajarkan bahwa kekayaan itu mempunyai fungsi sosial.

Sehingga selain Mandiri secara ekonomi, umat Islam juga dituntut turut berpegang pada syariat untuk memberi dan berbagi kepada sesama, yang dalam ajaran Islam direpresentasikan dengan kewajiban zakat serta anjuran berinfaq dan shodaqoh. Aktivitas tersebut selain menyucikan harta yang diperoleh, menjadi indikator maslahat bagi seorang muslim dalam kehidupan ekonominya atau dalam wirausaha yang mereka lakukan. Dari hasil zakat, infaq, shodaqoh itu ekonomi umat merata dan berkembang dalam rangka mendorong kemakmuran bersama.

Doktrin kemandirian ekonomi dan kemakmuran bersama ini semakin penting dewasa ini, ada dua tantangan besar yang dihadapi dakwah Islam di bumi Indonesia saat ini dalam rangka membangun kemandirian ekonomi umat. Yaitu kesenjangan yang semakin melebar antara golongan kaya dan golongan miskin di satu sisi, serta kecenderungan meningkatnya ketergantungan kaum miskin kepada pemilik modal seperti ketergantungan Indonesia kepada negara maju di sisi yang lain. Tentu hal ini tidak sesuai dengan tatanan struktur masyarakat Islam yang kita idealitakan bersama.

Oleh karena itu, para kader dakwah dituntut untuk semakin kuat dan mandiri dalam kehidupan ekonominya, yang ditunjukkan dengan kemampuannya - yang secara jeli dan cerdas- memanfaatkan setiap peluang usaha dan bisnis serta mengembangkannya secara profesional. Jejaring ekonomi para kader dakwah tersebut jika dikelola dengan sistematis dan profesional akan mengokohkan Kemajuan dan perkembangan dakwah itu sendiri. Pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi kemajuan umat dan menyongsong kemajuan ekonomi bangsa, sehingga mengatasi kesenjangan dan ketergantungan ekonomi sebagaimana diungkapkan di atas.

Hal ini merupakan sebuah misi yang besar dan tidak mudah untuk diwujudkan, namun tekad harus dikuatkan dan itu harus dilakukan. Kerena kemajuan dakwah dan kemajuan bangsa ini khususnya dalam bidang ekonomi ada di tangan kita sendiri sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran "... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (bangsa), sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (Qs.  Ar Ra'd " 11).

Teladan Rasulullah dan Abdurrahman bin Auf dalam mewujudkan kemerdekaan ekonomi

Kemandirian ekonomi telah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang telah menjadi pedagang dan profesi sejak usia dini.  Bahkan area perdagangan dan bisnis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melintasi berbagai negara dan benua. Pada saat bersamaan, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menampilkan etika dan akhlak yang mulia dalam bisnisnya dengan perilaku amanah, jujur, dan adil dalam perdagangan. Dalam perniagaannya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam juga menjalin persahabatan dan bersikap menghargai orang lain.

Teringat juga sebuah kisah sahabat nabi bernama Abdurrahman bin Auf, dia adalah seorang saudagar kaya raya di Kota Mekah, beliau termasuk golongan awal yang tersentuh dengan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Pada saat diperintahkan untuk berhijrah menuju Madinah, beliau segera meninggalkan seluruh hartanya di Kota Mekah, beliau begitu militan dalam mengikuti instruksi keimanannya. 

Setelah beberapa waktu di Madinah, suatu hari seorang sahabat yang bernama Said bin Rabi berkata kepada Abdurrahman bin Auf, "Saudaraku, bagianmu setengah dari harta kekayaanku, kamu bebas memilih yang engkau suka". Abdurrahman bin Auf tidak tertarik dengan tawaran itu, dia tidak ingin menjadi beban saudara seiman nya sambil berkata, "Terima kasih, Semoga Allah memberkati keluarga dan harta kekayaanmu. Aku hanya ingin kau menunjukkan Di mana letak pasar. Aku seorang pedagang."

Benar saja, selang beberapa tahun kemudian Abdurrahman bin Auf sudah menjadi orang terkaya di kota Madinah. Bahkan nilai kekayaannya lebih banyak dari harta yang ditinggalkan di Mekah. Dalam sejarah, terukir Indah bawah harta kekayaannya itu menjadi pendukung utama dalam perjuangan Islam masa itu, dan tak pernah habis sehingga beliau wafat.

Demikian pentingnya Kemandirian ekonomi dalam kerangka dakwah Islam, dari berbagai referensi kita menemukan bahwa Rasulullah, khulafaur Rasyidin, dan para penerusnya sangat mementingkan pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Salah satu yang dibangun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setelah hijrah itu selain masjid adalah pasar.

Para pemimpin umat memahami benar bahwa faktor ekonomi merupakan satu sendi dari bangunan sebuah negara. Karenanya dakwah Islam harus memastikan penguasaan terhadap pasar. Dengan demikian dibutuhkan banyak pengusaha Muslim yang akan mengisi pasar dengan etika usaha yang Islami.


* Penulis adalah politisi,  pendakwah, dan penulis buku. 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda