Lima sikap mental dan karakter seorang muslim dalam berusaha - Juragan Post

Kamis, 03 Desember 2020

Lima sikap mental dan karakter seorang muslim dalam berusaha

Lima sikap mental dan karakter seorang muslim dalam berusaha

Jazuli Juwaini*



Islam begitu besar memberikan perhatian dan motivasi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi bagi umatnya. Di sisi lain, anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'Ala kepada bangsa ini berupa kekayaan alam dan potensi SDM Indonesia begitu melimpah. Oleh karena itu dituntut agar senantiasa memberdayakan potensi dirinya, dengan mengetahui dan mengembangkan minat dan bakatnya dalam berbagai bidang pekerjaan dan bisnis. Selanjutnya tinggal menyempurnakan ikhtiar dalam berusaha. Beberapa hal yang perlu ditanamkan dalam jiwa dan diimplementasikan dalam menjalani pekerjaan dan usaha antara lain:

Pertama, memiliki pemahaman atau persepsi yang benar tentang urgensi bekerja dan berusaha dalam Islam. Sebagaimana telah diulas, islam memberikan dorongan yang kuat kepada umatnya untuk bekerja dan berusaha serta mengangkat derajat orang-orang yang bekerja lebih tinggi daripada orang yang berdiam diri atau meminta-minta. Sejalan dengan risalah penciptaan kita sebagai khalifah fil ardhi, allah subhanahuwata'ala menyediakan dunia dan seisinya dengan segala kekayaan sumber daya yang ada untuk kita kelola dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran bersama. Sehingga bekerja dan berusaha dalam kerangka tersebut sesungguhnya merupakan kewajiban setiap insan yang beriman.

Kedua, memiliki tekad yang kuat dalam berusaha. Setiap usaha pasti mengandung resiko. Resiko tersebut tidak boleh mematikan dan mematahkan semangat dan maka kita dalam berusaha. Justru resiko tersebut harus memotivasi kita dengan menjadikannya tantangan yang harus di menangkan. Kata para pebisnis, setiap risiko mengandung peluang. Tekad dan motivasi yang kuat akan menuntun jalan untuk menemukan dan menangkap peluang peluang kemajuan bagi usaha kita.

Ketiga, berani melangkah dan mencoba. Tidak akan pernah maju dan berkembang dalam usaha dan bisnis bila tidak berani melangkah atau mencoba. Hilangkan pikiran dan trauma negatif. Kembangkan pikiran dan mimpi-mimpi positif. Keberanian akan mengenalkan kita pada dunia usaha yang kita jalani, tentang sekian banyak kegagalan di antara sekian banyak keberhasilan, yang menjadikan kita semakin maju dan berkembang dan kreativitas dan produktivitas yang semakin tinggi.

Keempat, memiliki kalkulasi atau perhitungan yang matang. Bener bahwa usaha butuh keberanian. Namun keberanian tersebut harus tetap terukur dan terencana sehingga tidak menjadi kekonyolan. Seperti rumus matematika, usaha kita dapat diperhitungkan dari berbagai aspeknya. Metode untuk melakukannya juga beragam, seperti dengan melakukan analisa kekuatan-kelemahan dan peluang-risiko atau yang dikenal dengan SWOT analisys. Pesannya adalah agar resiko usaha dapat dikalkulasi sedemikian rupa sehingga mampu mengoptimalkan keuntungan dan manfaat.

Kelima, memiliki keterampilan dalam mengelola usaha. Keterampilan dapat dipelajari baik melalui pengertian yang diperoleh dari buku-buku dan berbagai pelatihan, maupun melalui wawasan yang terasa lewat pengalaman. Targetnya semakin lama usaha dan bisnis kita harus semakin berkembang dan profesional. Pengalaman memberikan pelajaran bahwa banyak usaha yang cepat kandas di tengah geliat usaha itu sendiri karena kegagalan dalam pengelolaan bisnis yang seharusnya makin profesional.

Dengan pertumbuhan usaha dan bisnis para kader dakwah, kita semua berharap akan semakin nyata kontribusi kita terhadap kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa dalam rangka mengatakan kemiskinan, mewujudkan pemerataan ekonomi, dan mendorong kemandirian bangsa dengan melepaskan ketergantungan pada pihak lain.

Usaha dan bisnis yang mulanya adalah urusan dunia jikalau niat dan cara kita benar akan menjadi jihad, karena dia tidak Selalu identik dengan peperangan, tapi melihat apa yang menjadi titik lemah umat dan bangsa kita hari ini. Ternyata kita menemukan salah satu titik lemah itu pada bidang perekonomian. Makam meraih dan mendorong terwujudnya kemajuan ekonomi umat dan kemajuan bangsa adalah jihad yang mulia. Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua, untuk memenangkan dakwah Islam sekaligus memampukan negeri tercinta Indonesia.


* Penulis adalah politisi,  pendakwah, dan penulis buku. 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda