IPB dorong Maggot sebagai Alternatif Pangan dan Pakan - Juragan Post

Selasa, 16 Maret 2021

IPB dorong Maggot sebagai Alternatif Pangan dan Pakan

Maggot (foto/ istimewa)


Tangerang, 16 Maret 2021. Penggunaan maggot belakangan ini populer di kalangan peternak dan pembudidaya ikan lele. Maggot atau lalat Black Soldier Fly ini menjadi pakan alternatif pengganti pakan pabrikan. Pengunaan maggot sebagai pakan ini dipercaya dapat menekan biaya produksi oleh peternak.

Asosiasi Profesor Indonesia (API) bersama Dewan Guru Besar (DGB) IPB University pun mendorong budidaya maggot imi. Mereka mengadakan Webinar seri ke-3 tentang Black Soldier Fly (BSF). 

Webinar mengangkat tema “Dukungan Kebijakan terkait Pemanfaatan Black Soldier Fly (Hermetia Illucens) dan Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi." Webinar ini sendiri dapat diakses lewat akun Youtube Dewan Guru Besar IPB.

“Hari ini kita mendapatkan insight dukungan dari pemerintah. Upaya menghadirkan tiga kementerian, akademisi, pebisnis dan masyarakat adalah bentuk kolaborasi pentahelix, tinggal digaungkan oleh media masa,” ungkap Prof Ari Purbayanto, Ketua Asosiasi Profesor Indonesia saat memberikan sambutan acara.

Gemmi Triastutik, Sekretaris Direktorat Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, sebagai pembicara dalam webinar tersebut mengatakan bahwa, diantara tantangan dalam pembangunan perikanan budidaya adalah pengelolaan pakan, bagaimana agar mampu melakukan pemanfaatan dan penyediaan pakan alternatif.

Gemmi menuturkan bahwa pada tahun 2021, target produksi ikan dan udang sebesar 7,92 juta ton. Untuk memenuhi target produksi tersebut, dibutuhkan pakan ikan dan udang setidaknya 10,22 juta ton.

“Kebutuhan pakan ini masih dipenuhi dari produksi pabrik pakan dengan kapasitas kurang lebih 6,4 juta ton per tahun. Sehingga terdapat defisit pakan sekitar 2,9 juta ton. Dengan demikian, diharapkan keberadaan maggot atau BSF ini menjadi salah satu alternatif pakan buatan supaya bisa men-support kebutuhan bahan baku tepung hewani maupun nabati saat ini,” ungkap Gemmi.

Sementara pembicara lainnya, drh Boethdy Angkasa dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian mengatakan, bahwa pemanfaatan maggot sebagai hewan biokonversi sampah organik dapat menjadi alternatif substitusi bahan pakan sumber protein yang kita impor selama ini.

"Budidaya maggot dapat menjawab dua permasalahan besar Indonesia. Pertama, maggot dapat menjawab tantangan aspek ekologi karena maggot dapat mengonsumsi sampah organik secara cepat. Kedua, dari aspek ekonomi, maggot merupakan alternatif bahan pakan sumber protein yang tinggi energi dan menghasilkan pupuk organik yang kaya dari bekas larva dengan waktu yang lebih singkat dibanding metode konvensional,” tambah Boetdhy.

Tidak hanya sebagai pakan alternatif untuk peternakan, maggot juga potensial diolah menjadi pangan. Di Eropa, maggot sudah dijual untuk diolah menjadi pangan.


 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda