Orientasi Hidup - Juragan Post

Jumat, 19 Maret 2021

Orientasi Hidup

Orientasi Hidup

Satria Hadi Lubis*



ADA orang yang hidup dengan masa lalunya.

Ada orang yang hidup dengan masa kininya.

Ada orang yang hidup dengan masa depannya.

Mana diantara mereka yang akan berhasil?

Jawabnya : Yang hidup dengan masa depannya.

Sebab hidup menjadi bergairah dan penuh harapan. Melangkah terus tanpa henti, meraih satu per satu cita-citanya dan...berhasil!

Jika pun tak berhasil, ia puas karena telah berusaha. Hidupnya bernilai karena yang penting telah usaha. Tak ada penyesalan ketika meninggalkan dunia ini.

Apalagi jika masa depan yang dibayangkannya adalah kesejahteraan negeri akhirat. Maka tak ada yang mampu mengalahkannya dan mematahkannya.

Sedang hidup dengan masa lalu adalah trauma.

Jika masa lalunya indah, teruslah ia bernostalgia. 

Jika masa lalunya buruk, teruslah ia mendendam trauma.

Semuanya menguras energi yang tak perlu. Membuat ia bermimpi kosong atau menangis. Tumbuh dalam jiwa yang sakit dan rapuh.

Tapi yang penting hidup dengan masa lalu membuat ia lalai akan indahnya masa depan.

Hidup dengan orientasi masa kini juga berbahaya. Sebab mudah bersikap pragmatis dan egois.

Jarang pahlawan muncul dari orang-orang yang orientasi hidupnya di masa kini. Justru yang muncul adalah para manipulator dan koruptor.

Itulah sebabnya Allah menurunkan ayat tentang taqwa yang mengaitkannya dengan orientasi hidup di masa depan.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya UNTUK hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan" (Qs. 59 : 18)

Bukan berarti mengingat masa lalu dilarang. Bukan berarti berbuat untuk masa kini tidak boleh. Tapi janganlah dijadikan orientasi yang mengubur cita-cita dan harapan. Membuat hidup mendendam akan masa lalu dan hedonis akan masa kini.

Hiduplah dengan masa depan. Sebab dari sana muncul orang-orang baik, para pahlawan dan para pemimpin besar. Yang rela mengenyampingkan egonya, bahkan menyerahkan jiwa raganya, demi kemaslahatan orang banyak.

Demi mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan.

Untuk dirinya dan orang lain.


* Penulis adalah Penceramah, Trainer dan Nara Sumber bidang agama dan pemberdayaan manusia

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda